Tuhan Chat???
TUHAN CHAT???
By Cesillia Aida
TUHAN : Kamu memanggilKu ?
aku : Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?
TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.
TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
aku : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.
TUHAN : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan.
TUHAN : Tapi produktivitas memberimu hasil.
TUHAN : Aktivitas memakan waktu, produktivitas membebaskan waktu.
aku : Saya mengerti itu.
aku : Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.
TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk.
TUHAN : Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
aku : OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?
TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup.
TUHAN : Jalani saja.
TUHAN : Analisalah yang membuatnya jadi rumit.
aku : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?
TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin.
TUHAN : Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa.
TUHAN : Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
aku : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak ketidakpastian.
TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
aku : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.
TUHAN : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi penderitaan adalah sebuah pilihan.
aku : Jika penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?
TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
TUHAN : Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api.
TUHAN : Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita.
TUHAN : Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.
aku : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?
TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras.
TUHAN : Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
aku : Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu?
aku : Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?
TUHAN : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental.
TUHAN : Kekuatan dari dalam diri bisa keluar melalui perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.
aku : Sejujurnya, di tengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…
TUHAN : Jika kamu melihat ke luar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
TUHAN : Lihatlah ke dalam.
TUHAN : Melihat ke luar, kamu bermimpi.
TUHAN : Melihat ke dalam, kamu terjaga.
TUHAN :Mata memberimu penglihatan.
TUHAN :Hati memberimu arah.
aku : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?
TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain.
TUHAN : Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri.
TUHAN : Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
TUHAN :Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain berkejaran dengan waktu.
aku : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?
TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus
berjalan.
TUHAN : Selalu hitung yang harus kau syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
aku : Apa yang menarik dari manusia?
TUHAN : Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”.
TUHAN : Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”
aku : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya di sini?
TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.
TUHAN : Berhentilah mencari mengapa saya di sini.
TUHAN : Ciptakan tujuan itu.
TUHAN : Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
aku : Bagaimana saya bisa mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?
TUHAN : Hadapilah masa lalumu tanpa penyesalan.
TUHAN : Peganglah saat ini dengan keyakinan.
TUHAN : Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
aku : Pertanyaan terakhir, Tuhan.
aku : Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.
TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
TUHAN : Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
aku :Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.
TUHAN :Oke.
TUHAN : Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut.
TUHAN : Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan
TUHAN : masalah untuk diselesaikan.
TUHAN : Percayalah padaKu.
TUHAN : Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.
aku : Aku Cinta Padamu Tuhan!
aku : Terima kasih Tuhan Kisses and Hug mode On….
TUHAN : Aku Juga Cinta Padamu!
TUHAN : Kisses and Hug mode on…..
………TUHAN has signed out
Berapa lama Belanda Menjajah Indonesia?
oleh : Ali Syarief
Sudah menjadi keyakinan sejarah bangsa Indonesia, bahwa Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Tetapi percakapan saya dengan Bapak Hendarmin Ranadireksa, setelah beliau mengungkapkan berbagai bukti sejarah lainnya, berubahlah pikiran saya. Kesimpulannya, Belanda menjajah kita bukan selama 350 tahun, akan tetapi selama 34 tahun saja. Oleh karena itu, Belanda tidak memenuhi kualifikasi sebagai negara protektorat, karena syarat untuk menjadi protektorat harus telah menjajah minimal selama 100 tahun.
Jadi ketika terjadi perdebatan antara delegasi Belanda dengan tokoh-tokoh perjuangan Indonesia, mengenai hal tersebut diatas, team Belanda kalah argumentasi oleh team Indonesia. Team Indonesia mengatakan, bahwa yang disebut penjajahan itu, manakala seluruh wilayah nusantara telah diduduki, padahal propinsi Aceh, baru diduduki mulai tahun 1911. Jadi sejak Aceh diduduki/ditaklukan itulah mulai dihitung Belanda menjajah Indonesia. Delegasi Belanda, karena tidak bisa beradu argumentasi, akhirnya mengakui delegasi Indonesia itu, dan itulah yang tercatat dalam dokumen PBB. Sehingga Belanda gagal menjadi negara Protektorat.
Hal lain, adalah soal kata “Penjajahan”, adalah terminologi yang di gunakan kepada Bangsa Belanda saat menduduki wilayah Nusantara ini. Kata “Penjajahan” berkonotasi seperti terjadi penindasan, penyiksaan, ketidak adilan, dan lain lain yang serumpun dengan itu. Gampang sekali untuk mengiyakan hal tersebut, karena memang pikiran kita sudah terlalu lama dicekoki dengan gambaran-gambaran akan kebencian kepada bangsa Belanda itu. Sementara fakta yang ada didepan mata kita adalah, bahwa KUHP baik pidana maupun perdata, yang saat ini sedang digunakan mengatur Bangsa ini adalah produk UU yang tetap masih dilaksanakan untuk melindungi warga negara dari ketidak adilan. Sejak jama Belanda pula, kita menmgenal jaksa dan Hakim, yang orang-orangnya benar-benar memiliki kompetensi dalam bidang hukum, baik mereka orang pribumi maupun orang Belanda.
Belanda juga membangun infra struktur, seperti jalan-jalan yang masih kita nikmati hingga saat ini, rel Kereta Api di Jawa dan Sumatera yang masih tetap menjadi urat nadi transportasi massive di Indonesia. Rasanya semakin menjadi janggal sekali, kalau yang disebut “sipenjajah Belanda” juga mendirikan ITB, UI, IPB, Stovia dan Perguruan Tinggi top lainya, yang produknya antara lain melahirkan sosok intelektual muda, seperti Ir. Sukarno dkk. Bahkan patut di catat Indonesia lebih dahulu memiliki seorang “Phd” dari pada Australia. Tidak dapat di bayangkan bagaimana bangsa Indonesia bisa membentuk pemerintahan ini, tanpa mereka yang pernah duduk di sekolah-sekolah tersebut.
Bukan mendirikan sekolah saja, tetapi perkebunan dan ilmu-ilmunya yang hingga kini telah turun menurun kepada para petani kita. Pemetaan wilayah sangat akurat, sehingga dimana menanam apa yang tepat, telah menjadikan produk pertanian bangsa ini unggul diwaktu yang lampau. Teh dan kopi kita umpamnya adalah produk yang paling top in di dunia pun rempah-rempah lainnya. Menulis yang indah, hormat kepada guru, disiplin dan budi pekerti lainnya, adalah warisan Belanda yang kini hampir punah. Roti dan Keju adalah selera bangsa ini juga warisan Belanda.
Jangan Mengkerdilkan Agama dengan ulah ekstrim
Oleh : Ali Syarief
Ketika seluruh Pendeta Hindu di Bali berkumpul, dalam rangka perenungan setelah Bom Bali meledak, disaksikan oleh para kepala negara asing waktu itu, dan disiarkan keseluruh pelosok dunia, Pendata tertinggi Bali itu dalam mengawali do’anya, Ia berkata seperti ini; “Alam Bali sudah kotor, marilah kita bersihkan kembali oleh kita semua, dengan masing-masing membersihkan diri”. Kemudian salah seorang keluarga korban Bom JW Mariot, dalam mengantar mendiang Mokodompis keliang lahatnya, beliau berkata; “jangan membalas kekerasan dengan kekerasan, marilah kita balas dengan kebaikan”.
Dua pernyataan tersebut itu, bagi saya sebagai seorang Muslim telah membuat diri ini merasa dijatuhkan kedalam derajat yang paling rendah, malu dan merasa terhinakan oleh mereka yang merasa telah berjuang mengatas namakan Tuhan dan Agama dengan membunuh orang-orang yang tak berdosa. Mereka biadab. Mereka telah meluluh rantahkan sendi-sendi kehidupan manusia lain. Berapa banyak keluarga yang akan menanggung derita akibat perbuatan keji itu. Isak tangis dan cucuran air mata yang tidak sepatutnya membajiri pipi mereka. Kerugian secara ekonomi pun, meluas. Bukan saja kedua hotel itu yang harus segara di rehabilitasi, tetapi nasib ratusan orang dan keluarga yang berkeja di kedua hotel itupun akan terganggu. Sementara saudara-saudara kita yang memiliki jiwa enterpreneur, ingin mengadu nasib untuk meraih keuntungan dari kehadiran kesebelasan Manchester United, harus gigit jari karena mereka urun hadir di Senayan, gara-gara hotel yang mereka akan inapi di hancurkan.
Kekesalan itu saya tulis dalam beberapa status saya, hingga aklhirnya saya menulis seperti ini; “Thus, if a Muslim decides to blow himself up and take innocent people’s lives with him, we cannot deem that such an act represents Islam,” Radicalism was born from individuals’ misinterpretations of religious teachings. Pada status sebelumnya saya turunkan seperti ini : “Extremists in any religion or culture are very frightened confused people”
Ada alasan yang melatar belekangi mengapa saya tulis status seperti tersebut. Saya menemukan dua kalimat kunci didalam kitab suci yang saya kagumi yaitu Al-qurnulkarim. Kalimat itu ialah; “ya ayuhaladzina amanu ittaqullah” dan “Ya ayuhannas ittarobakum”. Artinya, yang pertama, tentu ini ditujukan kapada orang Islam, “hei orang yang beriman, bertaqwallah kepada Allah” dan yang kedua “Hei manusia semua, bertaqwalah kepada tuhan-tuhan kamu”. Saya memahami nya bahwa Tuhan telah meminta kepada semua manusia untuk mengikuti dan taat kepada aturan tuhan-tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Inilah yang telah membuat diri saya tersenyum ikhlas; ketika melihat seorang Muslim beribadah di masjidnya, ketika seorang kristiani pergi ke gerejanya, ketika seorang Hindu membawa persembahan ke pura-puranya, ketika seorang Budha menyulut dupa di hadapan Patung Budha Gautama, dst.
Radicalism born from misinterpretation: Religious expert
The Jakarta Post , In the wake of attacks of two suicide bombers who detonated bombs at the JW Marriot and Ritz-Carlton hotels in Jakarta on Friday, a prominent religious figure said radicalism was born from individuals’ misinterpretations of religious teachings.
“Thus, if a Muslim decides to blow himself up and take innocent people’s lives with him, we cannot deem that such an act represents Islam,” Nadhlatul Ulama (NU) chairman Hasyim Muzadi said during an inter-religion prayer near the Friday bomb sites in Kuningan, Central Jakarta, on Monday.
“Indonesians are victims of misinterpretation that has given birth to acts of terrorism.”
Prabowo Subianto, the running mate of trailing presidential candidate Megawati Sukarnoputri said there were only a few radicals in Indonesia.
“But they are capable of brutally devastating the country. We must remain alert,” he said. (hdt)
detikcom : Ada \’Cicak\’ di Tugu Proklamasi
title : Ada \’Cicak\’ di Tugu Proklamasi
summary : Serangan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berdatangan. Untuk menyelamatkan institusi tersebut, CICAK (Cintai Indonesia Cintai KPK) siap dideklarasikan. (read more)
Megachurch pastor Rick Warren addresses US Muslims
Defying some of his fellow conservative Christian critics, one of the most prominent religious leaders in the country told several thousand American Muslims on Saturday that “the two largest faiths on the planet” must work together to combat stereotypes and solve global problems.
“Some problems are so big you have to team to tackle them,” evangelical megachurch pastor Rick Warren addressed the annual convention of the Islamic Society of North America.
Warren said Muslims and Christians should be partners in working to end what he calls “the five global giants” of war, poverty, corruption, disease and illiteracy.
Warren, founder of Saddleback Community Church in Orange County, California, is the author of “The Purpose Driven Life,” which has sold more than 30 million copies worldwide. His willingness to show support for U.S. Muslims is a huge gain for the community, which has endured intense scrutiny since the terror attacks of Sept. 11, 2001.
A Southern Baptist, Warren has a record of upsetting fellow Christian conservatives by calling old-guard evangelical activists too partisan and narrowly focused. Ahead of his speech Saturday, bloggers who follow Warren had already denounced his appearance at the convention as cozying up to extremists.
Warren acknowledged the controversy during his 20-minute speech.
“It’s easier to be an extremist of any kind because then you only have one group of people mad at you,” he said. “But if you actually try to build relationships – like invite an evangelical pastor to your gathering – you’ll get criticized for it. So will I.”
In his speech, Warren also urged Muslims and Christians to speak out against stereotyping of any group and to respect each other even while disagreeing. Addressing Muslims who “have been in America for many generations now,” he urged them to help “the newcomers learn what it means to be American.”
Based in Plainfield, Indiana, ISNA is an umbrella organization for Muslim groups across the country. The annual convention, now in its 46th year, regularly draws more than 30,000 people for lectures, prayer and socializing.
Many in the crowd were drawn to the session by prominent Muslim scholars such as Sheik Hamza Yusuf of the Zaytuna Institute in Berkeley, California.
Ann Zahra, 42, said she had never heard of Warren before Saturday but agreed with much of his speech.
“The basics are the same,” said Zahra, of McLean, Virginia “No religion teaches cruelty or disrespect or hatred.”
With Sulthan HB X

Sri Sultan Hamengkubuwono X (also seen as Hamengkubuwana) (born BRM Herjuno Darpito, 2 April 1946 in Yogyakarta) is the current monarch of the historical Yogyakarta Sultanate in Indonesia, and is currently also the elected governor of the modern Yogyakarta Special Region. He was inaugurated on 3 October 1998.
According to special status granted to the Yogyakarta state when the Republic of Indonesia was formed, the hereditary monarch is to hold the position of governor of the province. However, this provision was not honored by the Indonesian central government when Hamengkubuwono X ascended the throne in 1988. The then-serving hereditary vice-governor Sri Paku Alam VIII, prince of an enclave within Yogyakarta, was instead elevated to the position of governor.[citation needed]
In 1998 the central government required an election be held for the post of governor, and Hamengkubuwono X was elected by the province’s assembly.
Agum Luncurkan Biografi, Bantah untuk Kampanye

Jakarta, Kompas – Calon wakil presiden Agum Gumelar, Senin (28/6) malam, di Jakarta, meluncurkan buku biografinya yang berjudul Agum Gumelar, Jenderal Bersenjata Nurani. Selain mengupas perjalanan hidupnya, dalam buku tersebut juga dituturkan peran mantan Panglima Komando Pasukan Khusus tersebut dalam saat-saat terakhir pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
Peluncuran buku setebal 271 halaman yang digelar di halaman Museum Gajah tersebut, dihadiri oleh banyak tokoh penting. Tampak hadir pengamat militer Salim Said, Ketua DPP PDI Perjuangan Roy BB Janis, Duta Besar Spanyol Damaso De Lario, para purnawirawan jenderal seperti mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn) Wismoyo Arismunandar, mantan Wakil KSAD Mayjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dan mantan KSAD Jenderal TNI (Purn) Subagyo HS, juga artis Titiek Puspa.
Walau diluncurkan saat musim kampanye calon presiden/calon wakil presiden, cawapres Hamzah Haz itu membantah jika peluncuran buku biografinya tersebut sama sekali tak ada kaitan dengan pencalonan dirinya sebagai capres. Biografi itu, menurut Agum, dibuat dengan niat membagi pengalamannya dengan masyarakat, khususnya generasi muda. “Jadi ini bukanlah buku yang dibuat sebagai bantahan atas sebuah peristiwa atau isu yang beredar, peristiwa yang saya tuturkan di sini banyak saksinya,” ujar Agum.
Dalam buku yang ditulis oleh Retno Kustiati dan Fenty Effendy tersebut dikisahkan peran Agum saat-saat genting pemerintahan KH Abdurrahman Wahid pada 2001. Ketika itu perseteruan antara Abdurrahman dengan pihak legislatif mencapai puncaknya. KH Abdurrahman saat itu berniat mengeluarkan Dekrit Presiden yang berisi perintah pembubaran parlemen. Namun, Agum yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik Sosial dan Keamanan berupaya mencegah Abdurrahman mengeluarkan Dekrit tersebut untuk mengamankan posisinya sebagai presiden. Namun, saran Agum itu ditolak oleh Abdurrahman.
“Saya tidak bermaksud menyudutkan Gus Dur, saya siap jika ada respons terhadap pengalaman yang saya tuturkan dalam buku ini,” kata Agum. Bahan lainnya dalam biografi tersebut antara lain berisi pengalaman Agum memimpin Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI).(DOT)
Hendarmin – Adnan Buyung Nasution – Emil Salim – Me


Professor Dr Emil Salim, (born in Lahat, South Sumatra, Indonesia, 8 June 1930) is an economist and former Minister of Indonesia. Born of Minangkabau parents, both from the village of Koto Gedang in West Sumatra. His uncle is Agus Salim, one of the founding fathers of the Republic of Indonesia and Minister of Foreign Affairs in the early 1950s.
Professor Salim graduated from the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1959. He then obtained a PhD degree in Economics from the University of California, Berkeley, and returned to Indonesia to a teaching position at the Faculty of Economics of the University of Indonesia in 1964. In 1977 he appointed the position Professor of Economic Development.
Professor Salim has held a number of governmental positions, including:
- 1966: member of the team of economic advisers to President Suharto
- 1967-68: member of the team of advisers to the Minister of Manpower.
- 1967-1969: Chairman of the technical team of the Council for Economic Stability and a member of the Gotong Royong Parliament.
- 1969: Vice Chairman of Bappenas (the National Development Planning Agency)
- 1971: Minister of State for the Improvement of the State Apparatus.
- 1973-1978: Minister of Communication
- 1978-1983: Minister of State for Development Supervision and the Environment
- 1983-1993: Minister of State for Population and the Environment.
- 2007-present: Member of the Advisory Council to President Yudhoyono, as the adviser for environment and sustainable development issues.
Professor Salim has chaired the Foundation for Sustainable Development and the Kehati Foundation, and co-chaired the United States-Indonesia Society. He is a member of the Association of Indonesian Moslem Intellectuals.





